Mencontek Itu Wajar dan Biasa (?)

Teman-teman pasti bingung dan berpikir mengapa judul postingan Indra kali ini demikian. Ya, Indra bener-bener tergelitik untuk menulis tentang hal ini setelah baca koran Surya terbitan hari ini. Silahkan teman-teman, terutama yang berdomisili di Jawa Timur membacanya di halaman depan. Miris dan pengen ngakak pas baca beritanya, hehehe!

Mencontek Itu Baik

Mengapa Indra sebut “Mencontek Itu Baik” dan bahkan sangat disarankan? Ya, kalo teman-teman pengen sukses meraih impian teman-teman, conteklah mereka yang udah sukses meraih impian mereka. Contoh neh, teman-teman punya impian membuka restoran masakan Padang yang ciamik, keren, rasa masakannya mantab dan bener-bener kerasa Padang-nya, conteklah bagaimana cara mengolah masakan Padang yang rasanya mantab dan ciamik plus rasa Padang-nya bener-bener nendang (bola kali ditendang, hehehehehe!). Ato mungkin teman-teman pengen jadi manager perusahaan yang sukses yang bisa bawa perusahaan tempat teman-teman bekerja menjadi lebih baik, conteklah bagaimana usaha manager perusahaan lain yang udah terbukti sukses membawa perusahaannya menjadi yang terbaik di bidangnya. Tentu saja tidak semua dicontek abis, pasti ada yang bisa disesuaikan atau sedikit diubah sesuai dengan bidang teman-teman. Be creative dikit lah, tunjukkan bahwa teman-teman bisa berbeda dari yang lain. Setuju? Setuju dong! (mekso, hehehe)

Itulah sedikit contoh tentang mencontek yang baik dan bahkan sangat disarankan untuk dilakukan. Ambil yang bagus, pelajari, sesuaikan dan modifikasi kalo perlu, lalu yang paling penting adalah LAKUKAN!

Mencontek Itu Buruk

Nah, kalo yang ini mah teman-teman pasti dah pada tahu semua kan mengapa mencontek itu buruk. Dah banyak kasus tentang mencontek itu buruk. Contoh yang paling fresh (pagi tadi neh baru baca ceritanya), seorang murid di sebuah sekolah dasar negeri di Surabaya dipaksa memberikan contekan kepada seluruh teman sekelasnya pada saat Ujian Nasional kemaren. Hah?! Kok bisa? Ya bisa dong, tanya aja tuh yang ngelakuin. Dan hal ini sampe berbuntut pada tuntutan untuk pengusiran dari keluarga si murid dari daerah tempat dia tinggal. Lho, kok bisa?

Gini ceritanya, ortu si murid tahu kalo putranya dipaksa oknum guru untuk memberikan contekan jawaban Unas ke seluruh teman sekelasnya. Tentu aja si ibu langsung ngelaporin hal itu ke pihak yang berwenang, yaitu Komite Sekolah dan Dinas Pendidikan dan akhirnya sampailah ke media yang tentu dengan senang hati memberitakannya. Lha kok ndilalah efeknya malah warga sekitar menyalahkan si ibu pelapor dan akhirnya berujung pengusiran si ibu dan keluarganya. Wow!

Tolong dong bantu Indra, sebenanya dimanakah letak kesalahan sang ibu sampe beliau harus mengalami pengusiran tersebut? Apakah salah memberitahukan sebuah ketidakjujuran dalam sebuah ujian? Benarkah tindakan atau permintaan warga hanya karena masalah itu?

Ya, saat Indra membaca berita tersebut Indra hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Betapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah kejujuran. Apakah sudah tidak ada lagi kejujuran di bumi Indonesia ini? Apakah sudah sedemikian rusak dan sakitnya mental masyarakat kita jika sebuah kejujuran harus dibayar dengan pengusiran?

Ada satu hal yang bikin Indra pengen ketawa dan seandainya Indra ada disana saat mereka ngomong hal ini, Indra bakal langsung menyerang dengan jurus pamungkas yang Indra miliki, yaitu Jurus Lidah Beracun, hohohoho! Indra kutip aja yah : “…..Warga juga menyatakan bahwa menyontek sudah terjadi dimana-mana dan wajar dilakukan siswa agar bisa lulus….

(Hening sesaat) (melongo)

HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA……..!!!!!!

Oalah, mencontek dikatakan biasa dan wajar rek! Haduh haduh, otaknya udah pindah ke lutut ato mungkin kurang 1 ons kali yah.  Ya Allah, udah sedemikian parahkah manusia Indonesia sekarang ini? Pantes aja Indonesia gak maju-maju lha wong pemikiran masyarakatnya aja gak mau diajak maju. Kalo kecilnya aja udah diajari berbuat curang (baca : nyontek waktu ujian) gimana nanti kalo udah gede? Mau jadi apa tuh? Maling, tukang korupsi, preman?

Coba deh teman-teman lihat iklan layanan masyarakat yang dikeluarkan oleh KPK. Lihat dan perhatikan bagaimana urut-urutan seseorang bisa menjadi koruptor. Kecil BOHONG, dewasa CURANG dan tua KORUPSI. Apakah ini yang ingin kita wariskan ke anak cucu kita dan penerus bangsa ini? Apakah kita bangga disebut sebagai bangsa koruptor? Kalo saat ini kita miskin dan bodoh, Indra mohon jangan sampai anak cucu kita mengalami hal yang sama dengan kita. Bantulah mereka menjadi pandai, cerdas, kaya dan berakhlak baik. Pendidikan bukanlah berawal dari sekolah, melainkan dari keluarga karena kita-lah lingkungan yang paling dekat dengan anak. Tugas guru bukanlah sebagai pendidik, bukan pengajar. Itulah alasan mengapa tidak ada yang namanya DINAS PENGAJARAN, yang ada adalah DINAS PENDIDIKAN.

Itulah sedikit yang ingin Indra sampaikan kepada teman-teman semua. Teman-teman semua adalah calon orang tua, jadilah orang tua yang baik dan berikan contoh dan didikan yang baik bagi anak dan keturunan teman-teman. Ajari dan didiklah anak-anak teman-teman dengan kearifan budaya nenek moyang kita. Tidak ada salahnya mencontoh pendidikan ala Barat dan kemudian sesuaikan dengan budaya Timur. Ajarkan dan didiklah anak-anak kita dengan nilai-nilai moral dan agama. Tidak ada satupun ajaran agama yang mengajarkan KEBOHONGAN dan KETIDAKJUJURAN.

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan dihindarkan dari kebodohan dan kebatilan. AMIN!

Salam,

 

Indra Pradana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s