Terapi Induksi Listrik ala Warga Rawa Buaya

Indra terus terang agak gimana gitu dengan berita yang tadi pagi Indra baca di koran dan juga media berita digital. Antara geli, miris, takut dan geleng-geleng kepala. Well, Indra ceritakan secara singkat aja deh buat temen-temen yang belum tahu.


Seperti yang diberitakan, warga Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat memiliki cara yang “unik” (kalo gak mau dibilang nyeleneh) untuk menyembuhkan beberapa jenis penyakit yang umumnya menyerang pada usia lanjut. Cara “unik” tersebut adalah dengan berbaring diatas rel kereta api selama kurang lebih satu jam.

Haiyaaaahhh….opo maneh iki? Kayak gak ada media alternatif lagi selain batu celup Ponari (masih inget tho si dukun cilik Ponari dengan batu celup-nya), hehehe! Coba deh liat gambar di atas, enak banget tuh mereka berjajar kayak ikan asin dijemur, gak takut “dicium” kereta tuh. Warga tersebut mempercayai kalo kekuatan listrik di rel yang memberikan kesembuhan itu. Sementara menurut Kadaops I PT KAI tidak ada aliran listrik di rel (kalo pengen listrik adanya tuh diatas rel, yaitu kabel listrik yang melintang sepanjang rel). Kalaupun ada, itupun hanya 3 Volt (setara dengan setruman dari dua buah baterai 1,5 Volt) akibat gesekan roda kereta dengan rel. Sedang menurut Kepala Humas PT KAI Daops I tegangannya bisa mencapai 5-10 Volt dan bahkan bisa lebih jika setelah kereta melintas. Akibatnya? Coba deh temen-temen dalam kondisi tangan basah terus megang stop kontak beraliran listrik. Rasanya maknyuzz tho, hehehe!

Indra gak abis pikir, kok ya bisa-bisanya ada yang berpikiran seperti itu. Sapa sih pencetusnya? Rel kereta api kan sebenernya tempat yang berbahaya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian Pasal 181  menyebutkan bahwa sepanjang 6 meter jarak dari as rel kereta api harus steril dari kegiatan apa pun. Apabila melanggar, akan dikenai sanksi Rp 15 juta atau kurungan penjara selama tiga bulan.  Karena apa? Temen-temen tahu kan kereta api kalo jalan udah kayak mobil ngebut aja, mak wuzzz….!!! Terlebih lagi kereta gak bisa direm mendadak, paling tidak jarak 2 km kereta harus mulai melakukan proses pengereman jika hendak berhenti. Kalo ndadak kan keretanya bisa nyungsep dan rangkaian dibelakang lokomotif bisa berantakan. Temen-temen yang udah pernah naek kereta pasti bisa merasakannya kan kalo kereta mau masuk stasiun, pasti akan mulai melambat jauh sebelum masuk stasiun.

Miris juga sih sebenernya Indra bacanya. Hal-hal seperti ini hampir selalu terjadi pada masyarakat kelas bawah. Bukan apa-apa, they usually poor and uneducated. Mereka tidak mampu membayar biaya berobat ke rumah sakit atau dokter. Mereka hanya mampu membayar untuk pengobatan alternatif yang kadang tidak ada hasilnya. Pihak-pihak yang berwenang juga tidak henti-hentinya memberikan penyuluhan dan edukasi kepada warga terkait bahaya berada terlalu dekat dengan lintasan dan rel kereta api tetapi tetap aja mereka membandel. Lha mau gimana lagi, pola pikir mereka seperti itu. Bagi mereka, Seeing is believing. Mereka gak peduli bukti ilmiah atau apapun, yang penting murah dan gratis walaupun mungkin mereka harus membayar dengan harga yang amat mahal. Kalo Indra ada disana, Indra pengen banget nyaranin terapi yang lebih baik, yaitu terapi gilas roda kereta (baca : dilindas kereta dengan kecepatan tinggi) atau terapi induksi listrik super (baca : nongkrong di atap KRL di deket pantografnya, sentrumannya lebih manteb euy). Dengan dua jenis terapi itu dijamin bakalan sembuh dan penyakit gak bakalan balik (ya iyalah, lha wong udah say goodbye pada dunia ini, hehehe!)

Well, itu aja sih yang Indra pengen share ke temen-temen semua. Mari kita sama-sama berdoa semoga tidak ada kejadian tragis yang akhirnya membuat mereka terbuka matanya terhadap bahaya yang mengintai di depan mata (gak lucu kan kalo pas lagi enak-enak baringan di rel lalu tertidur, eh tiba-tiba datanglah sang kereta menyapa dan wassaalam dah). Mari kita bersama-sama mengedukasi masyarakat tentang resiko berada terlalu dekat dengan rel kereta api dan tentu saja kereta apinya.

Salam perubahan,

 

Indra Pradana

Sumber :

*. http://www.detiknews.com/read/2011/07/21/154047/1686138/10/?992204topnews

*. http://megapolitan.kompas.com/read/2011/07/21/11580442/Terapi.di.Rel.Bisa.Bikin.Badan.Tersetrum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s